Jumat, 08 Oktober 2021

Cerita Masa Kecil Bersama Buku Sastra

 

Saya lahir di Jakarta, 46 tahun silam. Ketika menginjak usia 2 tahun, saya dan keluarga pindah dari Jakarta untuk kemudian menetap di kawasan  Pamulang Tangerang selatan, di sebuah desa bernama Bambuapus, yang dahulu masih wilayah kecamatan Ciputat, belum terpisah menjadi wilayah Kecamatan  Pamulang. Kami sekeluarga diboyong bapak dari Jakarta,  menempati rumah yang telah bapak beli di desa Bambuapus, tepatnya di  Komplek Departemen Agama. Akhirnya  kami sekeluarga jadi warga Bambuapus Pamulang sejak tahun 1977. 

Banyak pengalaman-pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja.  Dunia saya kecil begitu menyenangkan.  Masih bersih dan steril dari hingar bingarnya  hiburan perkotaaan. Kita cukup dimanjakan oleh radio dan televisi dengan satu channel saja, yaitu TVRI. Sudah sangat bahagia. Saya kecil adalah, anak dengan berbagai macam hobi. Dari mulai membaca, mendengarkan sandiwara radio, mendengarkan musik dan nonton film di TV. Semua konsep acara TV masih sangat mendidik, jadi layak ditonton semua  anak. Film Boneka si unyil adalah favorit anak-anak pada masa itu. Acara TV saat itu dimulai sore hari, hingga larut malam. Khusus malam minggu, saya selalu menunggu acara TV paling terakhir, yaitu  Film Akhir pekan, menampilkan tayangan Film Indonesia terbaik tahun 70-an s/d 80-an. 

Saya juga senang mendengarkan sandiwara radio dan mendengarkan musik dari berbagai stasiun radio FM maupun AM. Ada hari dan jam tertentu dimana saya sibuk mendengarkan sandiwara radio. Salah satunya adalah sandiwara radio yang sangat nge top  pada masanya, yakni  saur sepuh, yang disiarkan melalui media radio pada dasawarsa 1980-an di Indonesia.  Saur sepuh adalah judul sandiwara radio yang menjadi master of legend atau legenda terbesar dari sandiwara radio yang pernah ada di Indonesia. Saur Sepuh merupakan karya asli dari Niki kosasih (alm) yang bercerita tentang perjalanan seorang pendekar sakti bernama Brama Kumbara yang kelak menjadi raja di salah satu kerajaan di wilayah selatan bernama Madangkara.

 Saya juga hobi membaca. Hobi membaca pada masa anak-anak mempunyai peranan penting untuk sebuah kesuksesan di masa sekarang.  Sejak duduk di kelas 3 SD saya sudah gemar membaca buku pelajaran dan majalah anak-anak.  Saya ingat betul ketika itu, kami di rumah berlangganan koran dan majalah. Tiap pagi saya  mendapat kiriman koran, dan 1 bulan sekali kiriman majalah. Ibu, kakak dan adik-adik saya jadi terbiasa juga membaca koran dan majalah yang ada di rumah.  Pada waktu itu ada koran Pos kota, Suara Karya, Pelita dan Republika. Sementara beberapa majalah juga hadir di ruang tamu rumah keluarga kami. Sebut saja majalah-majalah yang saat itu ngetop. Misalnya,  majalah anak-anak  Bobo, majalah musik Hai, majalah  Gadis serta majalah Amanah yang sering di baca oleh ibu saya.  Semuanya kami dapatkan lewat berlangganan.

 Menjelang akhir duduk di Sekolah dasar , saya juga senang baca novel. Beberapa  novel  yang saat itu laris manis seperti  novel Wiro Sableng, karya Bastian Tito,  dan  Hilman Hariwijaya dengan Lupus  nya, sempat menjadi buku bacaan favorit saya. Hampir tipa pulang sekolah dan libur sekolah saya sempatkan membaca buku itu.  Akhirnya buku benar-benar menjadi sahabat masa kecil saya. Saya benar-benar jatuh cinta pada buku. Buku menjadi sahabat saya kala itu. Dari membaca, saya mulai penasaran, ingin belajar menulis.   

  Sampai pada suatu hari saya membaca rubrik CICA judul kolom dalam majalah Amanah.  CICA  menyelenggarakan sayembara menulis cerita atau mengarang tentang Ibu’ pada tahun 1987, persis  saat saya   duduk di kelas 6 SD .   Kebetulan sekali sayembara itu bertepatan dengan menyambut hari Ibu tanggal 22 Desember. Karangan di tulis sendiri di folio bergaris, dan dikirim via POS. Saya mencoba memberanikan diri mendaftar, menulis karangan  hasil karya sendiri, kemudian  di  kirim oleh bapak lewat kantor pos terdekat. Ini pertama kali saya mengikuti lomba mengarang. Bismillah dan Alhamdulilah tidak menang,..heee… tapi saya tetap semangat dan  tetap senang, apalagi  semua peserta mendapat sertifikat, tanda kenang-kenangan dari CICA. Menjadi sebuah pengalaman tentunya

Saya juga penggemar Novel dan karya sastra dari orang-orang besar. Novel sastra yang pertama saya baca adalah Siti Nurbaya, karya Marah Rusli dan Karya besar the” fenomenal “ Buya Hamka Tenggelamnya kapal Van Der WijkMasyaAllah,  ternyata dua buku tersebut menceritakan kisah  tentang percintaan, kawin paksa dan kasih tak sampai, yang terjadi di daerah Padang, sebagaimana latar belakang sang penulisnya berasal dari Suku Minangkabau ( Sumatera Barat ). Kalau di ingat-ingat saat ini jadi lucu sendiri, bagaimana bisa saya yang masih duduk di kelas 6 SD sudah berani membaca cerita kategori dewasa, buku bergenre sastra pula, yang kadang sulit dimengerti, karena perlu pemahaman yang dalam tentang cerita tersebut.

 Saya juga pernah membaca Atheis, salah Asuhan, Azab dan sengsara dan lain-lain. Semuanya bergenre sastra. Kenapa buku sastra penting ? Karena sastra melembutkan hati dan membuka jendela kehidupan. Bahkan dua karya sastra Buya Hamka ‘ Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk “ dan Di Bawah Lindungan Ka’bah  sudah di filmkan, dan mendapat banyak respon positif dari masyarakat karena sarat makna. Artinya buku-buku yang bergenre sastra biasanya memberikan nilai-nilai moral yang tersirat . Itulah yang membuat saya mengagumi buku-buku sastra. Lagi dan lagi, sebuah pengalaman yang berkesan dengan buku-buku sastra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi_Episode 2

ATAS NAMA RINDU DAN  CINTA DI PUSARAMU   Mengenangmu  mu dalam kerinduan adalah sebaik-baiknya mimpi yang paling indah, saat ini, esok hari ...