Saya lahir di Jakarta, 46 tahun silam. Ketika menginjak usia 2 tahun, saya dan keluarga pindah dari Jakarta untuk kemudian menetap di kawasan Pamulang Tangerang selatan, di sebuah desa bernama Bambuapus, yang dahulu masih wilayah
kecamatan Ciputat, belum terpisah menjadi wilayah Kecamatan Pamulang. Kami sekeluarga diboyong bapak dari
Jakarta, menempati rumah yang telah bapak beli di desa Bambuapus,
tepatnya di Komplek Departemen Agama. Akhirnya kami sekeluarga jadi warga Bambuapus Pamulang
sejak tahun 1977.
Banyak pengalaman-pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu
saja. Dunia saya kecil begitu menyenangkan. Masih bersih
dan steril dari hingar bingarnya hiburan perkotaaan. Kita cukup dimanjakan oleh
radio dan televisi dengan satu channel
saja, yaitu TVRI. Sudah sangat bahagia. Saya kecil adalah, anak dengan berbagai macam hobi. Dari
mulai membaca, mendengarkan sandiwara radio, mendengarkan musik dan nonton film di
TV. Semua
konsep acara TV masih sangat mendidik, jadi layak ditonton semua anak. Film Boneka si unyil adalah favorit anak-anak pada masa itu. Acara TV saat itu dimulai sore
hari, hingga larut malam. Khusus malam minggu, saya selalu menunggu acara TV
paling terakhir, yaitu Film Akhir pekan,
menampilkan tayangan Film Indonesia terbaik tahun 70-an s/d 80-an.
Saya juga senang mendengarkan sandiwara radio dan mendengarkan
musik dari berbagai stasiun radio FM maupun AM. Ada hari dan jam tertentu
dimana saya sibuk mendengarkan sandiwara radio. Salah satunya adalah sandiwara
radio yang sangat nge top pada masanya, yakni saur sepuh, yang disiarkan melalui media radio pada dasawarsa
1980-an di Indonesia. Saur sepuh adalah
judul sandiwara radio yang menjadi master of legend atau legenda
terbesar dari sandiwara radio yang pernah ada di Indonesia. Saur Sepuh merupakan
karya asli dari Niki kosasih (alm) yang bercerita tentang perjalanan seorang
pendekar sakti bernama Brama Kumbara yang kelak menjadi raja di salah satu
kerajaan di wilayah selatan bernama Madangkara.
Saya juga hobi membaca. Hobi membaca pada
masa anak-anak mempunyai peranan penting untuk sebuah kesuksesan di masa sekarang. Sejak duduk di kelas 3 SD saya sudah gemar
membaca buku pelajaran dan majalah anak-anak. Saya ingat betul ketika itu, kami di rumah berlangganan koran dan
majalah. Tiap pagi saya mendapat kiriman koran, dan 1 bulan sekali kiriman majalah. Ibu, kakak dan adik-adik saya jadi
terbiasa juga membaca koran dan majalah yang ada di rumah. Pada waktu itu ada koran Pos kota, Suara
Karya, Pelita dan Republika. Sementara beberapa majalah juga hadir
di ruang tamu rumah keluarga kami. Sebut saja majalah-majalah yang saat itu
ngetop. Misalnya, majalah anak-anak Bobo, majalah musik Hai,
majalah Gadis serta majalah Amanah
yang sering di baca oleh ibu saya.
Semuanya kami dapatkan lewat berlangganan.
Menjelang akhir duduk di Sekolah
dasar , saya juga senang baca novel. Beberapa novel yang saat itu laris manis seperti novel Wiro Sableng, karya Bastian Tito, dan Hilman Hariwijaya dengan Lupus nya, sempat menjadi buku bacaan favorit saya. Hampir tipa pulang sekolah dan libur sekolah saya sempatkan membaca buku itu. Akhirnya buku benar-benar menjadi sahabat masa
kecil saya. Saya benar-benar jatuh cinta pada buku. Buku menjadi sahabat saya kala itu. Dari
membaca, saya mulai penasaran, ingin belajar menulis.
Sampai pada suatu hari saya membaca rubrik CICA judul kolom dalam majalah Amanah. CICA menyelenggarakan sayembara menulis cerita atau mengarang tentang Ibu’ pada tahun 1987, persis saat saya duduk di kelas 6 SD . Kebetulan sekali sayembara itu bertepatan dengan menyambut hari Ibu tanggal 22 Desember. Karangan di tulis sendiri di folio bergaris, dan dikirim via POS. Saya mencoba memberanikan diri mendaftar, menulis karangan hasil karya sendiri, kemudian di kirim oleh bapak lewat kantor pos terdekat. Ini pertama kali saya mengikuti lomba mengarang. Bismillah dan Alhamdulilah tidak menang,..heee… tapi saya tetap semangat dan tetap senang, apalagi semua peserta mendapat sertifikat, tanda kenang-kenangan dari CICA. Menjadi sebuah pengalaman tentunya
Saya juga penggemar Novel dan karya sastra dari orang-orang besar.
Novel sastra yang pertama saya baca adalah Siti Nurbaya, karya Marah
Rusli dan Karya besar the” fenomenal “ Buya Hamka Tenggelamnya
kapal Van Der Wijk. MasyaAllah, ternyata dua buku tersebut menceritakan
kisah tentang percintaan, kawin paksa
dan kasih tak sampai, yang terjadi di daerah Padang, sebagaimana latar belakang
sang penulisnya berasal dari Suku Minangkabau ( Sumatera Barat ). Kalau di
ingat-ingat saat ini jadi lucu sendiri, bagaimana bisa saya yang masih duduk di
kelas 6 SD sudah berani membaca cerita kategori dewasa, buku bergenre sastra
pula, yang kadang sulit dimengerti, karena perlu pemahaman yang dalam tentang
cerita tersebut.
Saya juga pernah membaca Atheis,
salah Asuhan, Azab dan sengsara dan lain-lain. Semuanya bergenre
sastra. Kenapa buku sastra penting ? Karena sastra melembutkan hati dan membuka
jendela kehidupan. Bahkan dua karya sastra Buya Hamka ‘ Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijk “ dan Di Bawah Lindungan Ka’bah “
sudah di filmkan, dan mendapat banyak respon positif dari masyarakat
karena sarat makna. Artinya buku-buku yang bergenre sastra biasanya memberikan
nilai-nilai moral yang tersirat . Itulah yang membuat saya mengagumi buku-buku
sastra. Lagi dan lagi, sebuah pengalaman yang berkesan dengan buku-buku sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar